Fihk Tauvhk's Blog

Learn from yesterday, Do your best today, Plan for a better tomorrow.

Remaja, Pornografi dan Pendidikan Seks

5 Komentar

Dalam masa remaja, rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat besar. Pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya. Umumnya mereka malu dan ragu untuk menanyakan langsung hal tersebut pada orang tuanya. Dan orang tua pun menganggap hal itu sebagai hal yang tabu untuk di bicarakan.

Karena rasa ingin tahu yang besar, tak sedikit yang mencari sendiri informasi-informasi tentang seks lewat berbagai media. Disinilah peran pendidikan seks di butuhkan sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan-pertanyaan dan rasa penasaran remaja tentang seks. Sehingga remaja dapat membedakan antara pornografi dan pendidikan seks.

1. REMAJA

A. Pengertian Remaja

Remaja adalah masa periode tertentu dari kehidupan manusia. Masa diantara masa anak-anak menuju kedewasaan. Di negara barat, istilah remaja dikenal dengan “adolscence” yang berasal dari kata dari bahasa latin “adolescere” (kata bendanya adolescentia = remaja), yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa.

Istilah adolescence, seperti yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Seperti yang diungkapkan oleh Piaget dengan mengatakan:

Secara psikologis, masa remaja adalah usia di mana individu berintyeraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak….integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber….termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok… transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataanya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.

Pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria yaitu biologik, psikologik, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:

Remaja adalah suatu masa di mana:

1.Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.

2.Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.

3.Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (muangman, 1980:9)

Dewasa ini istilah remaja telah digunakan secara luas untuk menunjukan suatu tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang di tandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu: 12 – 15 tahun sebagai masa remaja awal, 15 – 18 tahun sebagai masa renaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun sebagai masa remaja akhir. Namun, Monks, knoers, dan Haditino, (2001) membedakan masa remaja atas empat bagian, yaitu:

1.masa pra-remaja (pra-pubertas) pada 10 – 12 tahun.

2.masa remaja awal (pubertas) pada 12 – 15 tahun.

3.masa remaja pertengahan pada 15 – 18 tahun.

4.masa remaja ahir pada 18 – 21 tahun.

Masa remaja disebut juga dengan masa pencarian jati diri. Pada masa ini, seorang anak mulai terbiasa dengan berbagai perubahan fisik dan mental yang terjadi selama masa puber. Selain itu, seseorang mulai menemukan minat yang kuat pada hal-hal tertentu, misal pada agama, sosial, atau kegiatan-kegiatan seni, dsb. Pada masa ini, ketertarikan pada seks mendapat porsi tersendiri. Dorongan untuk melakukan pembentukan hubungan-hubungan baru dengan lawan jenis datang dari tekanan-tekanan sosial, terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya terhadap seks. Selanjutnya, remaja mencoba untuk memenuhi keingintahuan tersebut dengan mencari lebih banyak informasi. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa hanya sedikit remaja yang mendapat informasi seks dari orang tuanya sendiri atau sekolah. Kebanyakan remaja justru memperoleh pengetahuan dari pergaulan, majalah, televisi, atau buku.

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik. Pada masa ini, remaja mulai tertarik terhadap lawan jenis dan seksualitas. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor perkembangan fisik,pubertas dan perkembangan seksualitas.

B. Perkembangan Fisik Remaja dan Pubertas

Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak tehadap perubahan-perubahan psikologis. Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Dalam konteks ini, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduktif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, yang disebut “growth spurt” (percepatan pertumbuhan), di mana terjadi perubahan dan percepatan pertumbuhan di seluruh bagian dan dimensi badan, sehingga secara garis besar perubahan-perubahan tersebut dapat dikelompokan dalam dua kategori, yaitu perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik dan pertumbuhan-pertumbuhan yang berhubungan dengan perkembangan karakteristik seksual.

Selain perubahan tinggi dan berat badan, selama masa remaja terjadi juga perkembangan atau pertumbuhan dalam proporsi tubuh. Dimana terlihat pada perubahan ciri-ciri wajah, struktur kerangka dan pertumbuhan otot.

Masa remaja juga dikenal dengan istilah masa puber. Pubertas (puberty)ialah suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi dengan pesat terutama pada awal masa remaja. Masa pubertas ini ditandai dengan perubahan-perubahan pada ciri-ciri seks primer (primary sex characteristics) dan ciri-ciri sex sekunder (secondary sex characteristics).

Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan.Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang berbeda hal ini seperti yang pendapat berikut ini : Sexual characteristics are divided into two types. Primary sexual characteristics are directly related to reproduction and include the sex organs (genitalia). Secondary sexual characteristics are attributes other than the sex organs that generally distinguish one sex from the other but are not essential to reproduction, such as the larger breasts characteristic of women and the facial hair and deeper voices characteristic of men (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002)

Ciri-ciri sex primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri seks primer anak laki-laki berbeda dengan ciri-ciri seks primer anak perempuan. Pada anak laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukan dengan pertubuhan yang cepat dari batang kemaluan (penis) dan kantung kemaluan (scortum), yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk penis dan 7 tahun untuk skortum (seifert & Hoffnung, 1994) pada scortum terdapat dua buah testis yang sebenarnya telah ada sejak lahir, namun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Testis mencapai kematangan penuh pada usia 20 atau 21 tahun.

Perubahan-perubahan pada ciri-ciri seks primer pada pria ini sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bahaw otak (pituitary gland). Hormon perangsang pria iin merangsang testis, sehingga testis menghasilkan hormon testosteron dan androgen seta spermatozoa (sarwono, 1994). Sperma yang dihasilkan dalam testis selama masa remaja ini, memungkinkan seorang anak usia sekitar 12 tahun mengalami penyemburan air mani (ejaculation of semen) atau yang dikenal dengan istilah mimpi basah. Hal ini pula yang menjadi tolak ukur seorang anak laki-laki di katakan baligh dalam islam.

Sementara itu, perubahan ciri-ciri seks primer pada perempuan ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang di sebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama ini menunjukan bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga memungkinkan untuk mengandung dan melahirkan anak. Muncunya menstruasi pada perempuan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan indung telur (ovarium). Ovarium terletak dalam rongga perut wanita bagian bawah, di dekat uterus, yang berfungsi memproduksi sel-sel telur (ovum) dan hormon-hormon estrogen dan progesteron. Hormon progesteron bertugas untuk mematangkan dan mempersiapkan sel-sel telur sehingga siap untuk dibuahi. Sedangka hormon estrogen adalah hormon yang mempengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan pada tubuh seseorang (pembesaran payudara dan pinggul, suara halus, dan lain-lain). Hormon ini juga mengatur siklus haid (sarwono, 1993).

Oleh sebab itu, menstruasi pertama pada seorang gadis didahului oleh sejumlah perubahan lain, yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut disekitar daerah kelamin, pembesaran pinggul dan bahu. Selanjutnya, ketika percepatan pertumbuhan mencapai puncaknya, maka ovarium, uterus, vagina, labia, dan klitoris berkembang pesat (malina, 1990).

Sedangkan ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tanda-tanda jasmaniah ini adalah konsekuensi dari berfungsinya hormon-hormon yang telah disebutkan. Diantara tanda-tanda jasmaniah ang terlihat pada laki-laki adalah tumbuh kunis dan janggut, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, dada, kaki dan lengan dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul yang membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan.

C. Perkembangan Seksualitas Remaja

Salah satu fenomena kehidupan masa remaja yang sangat menonjol adalah terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas. Sehubungan dengan hal ini, Santrok (1998) menggambarkan sebagai berikut:

During adolescence, the lives of male and female become wrapped is sexuality… adolescence is a time of sexual exploration and experimentation, of sexuali fantasies and sexual realities, of incorporating curiosity aboy sexuality’s mysteries. They think about whether they are sexuality attractive, whether yhey will grow more, whether anyone will love them, and whether its is normal to have sex. The majority of adolescents manage eventually to develop a mature sexual identity, but for most there are periods of vulnerability and confusion along life’s sexual journey (santrok, 1993)

Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis.Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingatremaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent psychology, 1980). Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.

Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang beradadalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yangberhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkanseluk beluk seksual dari orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.


2. PORNOGRAFI

A. Pengertian Pornografi

Wikipedia menyebutkan bahwa Pornografi (dari bahasa Yunani, pornographia — secara harafiah tulisan tentang atau gambar tentang pelacur) adalah penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia dengan tujuan membangkitkan rangsangan seksual, mirip, namun berbeda dengan erotika, meskipun kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian.

Belakangan ini istilah pornografi digunakan untuk publikasi segala sesuatu yang bersifat seksual, khususnya yang dianggap berselera rendah atau tidak bermoral, apabila pembuatan, penyajian atau konsumsi bahan tersebut dimaksudkan hanya untuk membangkitkan rangsangan seksual. Sekarang istilah ini digunakan untuk merujuk secara seksual segala jenis bahan tertulis maupun grafis. Istilah “pornografi” seringkali mengandung konotasi negatif dan bernilai seni yang rendahan, dibandingkan dengan erotika yang sifatnya lebih terhormat.

Memang sampai sekarang batasan pornografi belum ada rumusan bakunya. Karena batasan pornografi sangat relatif seperti yang dikatakan A. Hamzah (1987) bahwa dalam lingkungan suatu bangsa sendiripun berbeda pengertiannya, misalnya antara suku Aceh dan Bali, antara suku Minahasa dan Bugis. Di mana harus diusahakan adanya suatu pengertian umum dalam masyarakat yang bersangkutan. Untuk itu dipanggil saksi-saksi ahli kebudayaan, agama, dan tokoh masyarakat untuk memberikan pendapat dalam kasus ini. Namun karena mencoloknya suatu gambar atau tulisan, seperti wanita telanjang bulat yang disebarluaskan, hal tersebut dianggap porno.

Menurut Moestopo (A. Hamzah, 1987) pornografi adalah segala karya manusia berupa tulisan-tulisan, gambar-gambar, foto-foto, barang cetakan lainnya serta pahatan yang melanggar norma-norma kesusilaan, kesopanan, agama, yang mempunyai daya rangsang seksual dan tidak sesuai dengan kematangan sex pada yang tertentu, dan dapat merusak norma-norma kesusilaan masyarakat sebagai akibat-akibat negatif daripada pornografi, dengan dalih apapun yang bertujuan disebarluaskan.

Sedangkan H.B. Yasin berpendapat pornografi adalah tulisan-tulisan yang sifatnya merangsang atau gambar-gambar wanita telanjang yang dianggap kotor karena dapat menimbulkan perasaann nafsu seks atau perbuatan moral.

Oemar Seno Adji (1973: 169) mendefinisikan pornografi bahwa porno diterima oleh masyarakat sebagai suatu indikasi pelanggaran kesusilaan, atau cabul yang menimbulkan pikiran-pikiran tentang gambar-gambar yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang hubungan-hubungan sex yang pervers. Pada tulisan-tulisan yang hendak melukiskan dengan kata-kata yang ditunjukkan oleh gambar tersebut atau pada gambar-gambar dalam majalah-majalah yang memperlihatkan wanita-wanita telanjang, setengah telanjang, ataupun pada gambar-gambar atau potret yang hendak dilihat secara diam-diam, pada roman-roman picisan, buku-buku yang menggambarkan pengalaman-pengalaman seksual. Halnya pornografi juga berhubungan dengan seksualitas dan ditujukan pada hal-hal seksual yang tidak dibenarkan.

Adapun kategori dari pornografi apabila penyajiannya pertama; mempermainkan selera rendah dengan semata-mata menonjolkan masalah seks dan kemaksiatan, kedua; bertentangan dengan kaidah-kaidah moral dan tata susila serta kesopanan, kode etik jurnalistik, dan agama.

B. Pengaruh Pornografi Terhadap Remaja

Masa remaja sarat dengan berbagai gejolak psikologis. Sedikit saja tersinggung, maka emosinya akan meledak-ledak dan tak terkendali. Masa ini juga masa yang sarat fantasi atau khayalan. Antara kekuatan emosi dan khayalan memungkinkan digunakan dalam berbagai hal yang negatif di antaranya pada penyimpangan seksual dan pornografi.

Seks itu sendiri pada dasarnya kekuatan. Seks bisa mendorong dan mempengaruhi seseorang untuk berbuat apa saja demi tujuan nafsunya. Jika kekuatan emosi remaja bersatu dengan kekuatan seks, maka bisa terbayang masa depan mental remaja tersebut. Tak heran jika para psikolog sendiri cenderung lebih mengkhawatirkan jika ternyata kekuatan emosi ini berpadu dengan seks. Rangsangan tanpa pelampiasan menyebabkan seseorang khususnya laki-laki menjadi gelisah dan tidak merasakan kestabilan jiwa.

Pornografi tentunya sangat berpengaruh bagi prilaku seksual remaja. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.

Jika diperinci satu persatu, bahaya pornografi di antaranya:

a)Memberikan fatamorgana negatif dalam daya khayal remaja yang berakibat mereka tersiksa dari sudut mental.

Mengapa mereka mesti tersiksa? Sebab utamanya adalah tidak adanya penyaluran hasrat tersebut karena mereka belum menikah. Seks adalah kekuatan. Maka jika kekuatan ini tidak tersalurkan, maka bukan mustahil terjadi tindakan-tindakan yang keluar dari norma masyarakat dan agama. Yang lebih berbahaya apabila fantasi seks ini menjadi sebuah beban mental. Jika ini terjadi, maka Abu Al-ghifari berpendapat bahwa mereka akan melakukan beberapa penyimpangan perilaku seksual yang melanggar norma-norma di antarnya:

1.Tindakan pemuasan seksual dengan diri sendiri yaitu masturbasi atau onani. Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan seksual.

Para psikolog umumnya berpendapat bahwa onani merupakan gejala yang lumrah atau biasa terjadi dan tidak ada pengaruh negatif terhadap fisik dan psikis jika dilakukan dalam stadium rendah.

Namun hal ini dapat menjadi berbahaya jika pelaku onani sudah merasa bahwa perbuatannya menjemukan sehingga ia menginginkan sesuatu yang berbeda, lebih menantang dan mulai berpikir untuk berhubungan intim di luar nikah.

Atas pertimbangan itulah, sebagian ulama islam mengharamkan perbuatan onani, seperti Imam Syafi’i, Maliki, Syeikhul Islam Ibnu taimiyah dan lain-lain. Perbuatan ini dinilai banyak mendatangkan madlarat dan lebih mendekatkan pada perzinahan

2.Pemuasan seksual pada sosok yang tak berdaya atau disebut pemerkosaan. Hal ini terbukti, dari beberapa kasus pemerkosaan, banyak di antaranya yang mengaku melakukan tindakan kriminal tersebut karena tidak bisa menahan hawa nafsu setelah melihat VCD porno.

mengganggu proses berfikir kreatif

Bagi remaja yang dalam usia produktif memang seharusnya berpikir tentang studinya dan berusaha untuk meraih prestasi sebaik-baiknya. Tapi bagi remaja yang telah terobsesi dengan pornografi akan sulit mengkonsentrasikan pikirannya pada belajar mengingat kemampuan daya ingat nya telah tercemari nafsu seksual dan khayalan-khayalan mesum.

c)menimbulkan sikap permisif

Remaja yang sering melihat tayangan porno biasanya lebih agresif menarik lawan jenisnya untuk pemuas nafsu. Akibatnya mereka telah terbiasa atau membiasakan diri bergandengan tangan, berpelukan, dan berciuman tanpa merasa berdosa bahkan mungkin akhirnya mereka justru merasa bangga dan merasa bahwa hal itu bagian dari mode pergaulan modern. Sikap seperti inilah yang disebut permisif atau serba boleh.


3. Pendidikan Seks

A. Pengertian Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks atau penyimpangan seks yang salah satunya di sebabkan oleh makin maraknya pornografi di berbagai media yang sangat berpengaruh bagi perkembangan psikologi khususnya bagi remaja.

Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.

B. Tujuan Pendidikan Seksual

Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Menurut Kartono Mohamadpendidikan seksual yang baikmempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab (dalam Diskusi Panel Islam Dan Pendidikan Seks Bagi Remaja, 1991). Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan (Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987)

Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut:

ÄMemberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.

ÄMengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggungjawab)

ÄMembentuk sikap dan memberikan pengertianterhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi

ÄMemberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.

ÄMemberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.

ÄMemberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.

ÄUntuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.

ÄMemberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.

Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.

Referensi

Atkinson, Atkinson, Hilgard, Dharma – Adryanto, Pengantar Psikologi edisi kedelapan, Jakarta: Erlangga, 1996

Desmita, Psikologi Perkembangan,Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2007

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan,jakarta: Erlangga,1999

Dr. Santo wirawan sarwono, Psikologi Remaja, jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2002

Dr. H Yusuf Syamsu LN., M. Pd.. Psikologi Perkembangan Anak&Remaja. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya, 2004

Abu Al Ghifari, Fiqih Remaja Kontemporer, Bandung: Media Qalbu,2005

http://www.e-psikologi.com/remaja/index.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Pornografi

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/11/e-book-tentang-seksualitas.html

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/11/e-book-Psikologi-remaja.html

Penulis: tauvhk

im simple.

5 thoughts on “Remaja, Pornografi dan Pendidikan Seks

  1. kpada yg membuat artikel di atas…
    skripsi saya tentang psikologi perkembangan pada remaja, di artikel anda ada sumber dari haditino (2001), boleh tau enggak karya haditino itu bentukna buku opo jurnal ???
    trus… apa judulna ????
    makasih ya…mohon di jawab ya….

    • untuk pertanyaan mba, saya sendiri kurang tahu karena pendapat Haditiono tentang pembagian empat masa remaja saya kutip dari buku kalo tidak salah:

      Desmita, Psikologi Perkembangan,Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2007

      maaf kalo kurang memuaskan..
      terima kasih

  2. kpada yg mnulis artikel diatas…. yayie mo nanya, di artikel ini ada karya haditino (2001), itu buku apa jurnal, trus judulna apa ????
    mohon di jawab ya… terima kasih sbelumnya….

  3. tuk yg buat artikel diatas thank’s ya artikelx bisa sedikit membantu dalam pembuatan proposalq, klu adalagi tlong kirimin ya
    judulq “PENGARUH TAYANGAN PORNOGRAFI TERHADAP MENARCHE PADA REMAJA”……………!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s