Fihk Tauvhk's Blog

Learn from yesterday, Do your best today, Plan for a better tomorrow.

Desa Kawunggirang

Tinggalkan komentar

Desa Kawunggirang

A. Sekilas Tentang Desa Kawunggirang.

a. Asal Usul Desa Kawunggirang

Asal-usul Desa Kawunggirang tidak banyak di ketahui orang.karena tidak ada bekas-bekas peninggalan maupun prasasti yang bisa di jadikan sumber keterangan. Tokoh-tokoh masyarakat pun tidak banyak memberikan keterangan karena asal-usul Desa kawunggirang hanya di ceritakan dari mulut ke mulut saja dan dalam kalangan tertentu saja.

Penulis menemukan sekilas tentang desa kawunggirang dari bagian skripsi yang di tulis oleh ayah penulis sendiri yang kebetulan keturunan dari tokoh masyarakat desa kawunggirang yaitu Mochamad Ali ,yang pernah menjabat menjadi pamong desa selama 23 tahun.

Masyarakat Desa kawunggirang menganggap jika pendiri desa kawunggirang adalah orang yang pertama kali menyebarkan agama islam di desa kawunggirang. Beliau adalah Embah Bahim (Tubagus Ibrahim) yang di makamkan di Astana Gede.Embah Bahim adalah anak dari Embah Latif.Embah Latif sendiri adalah anak dari Embah Pucuk Umum Fatu Talaga yang menikah dengan Maulana Ibrahim yang berasal dari Baghdad,Irak.

Kemudian datang pula seorang ulama keturunan sultan Banten yang bernama Tubagus Kacung yang mempunyai nama asli Tubagus Bunyamin. Beliau sengaja menyingkir dari kesultanan Banten karna kekacauan politik dengan adanya perebutan kekuasaan di kesultanan Banten. Kemudian Tubagus Kacung menikah dengan salah seorang putri Embah Bahim.

Embah bahim sendiri tidak begitu dijelaskan dengan siapa beliau menikah dan di karuniai beberapa keturunan.

Kemudian salah seorang putra Tubagus Kacung ada yang menjadi Qasli atau atau penghulu besar kesultanan Cirebon yang bernama Embah Arjean. Kemudian salah seorang putra Tubagus Kacung yang lain yang bernama Embah Abdullah Komar ,menjadi penghulu pertama kabupaten Majalengka.

b. Asal usul nama Kawunggirang

Desa Kawunggirang sebenarnya bersal dari “Kaum Girang” yaitu kumpulan orang-orang(kaum) yang berada di daerah yang tinggi(girang).berubahnya nama Kaum Girang menjadi Kawunggirang adalah di ilhami dari pohon kawung (aren) yang memiliki banyak kegunaan.diantaranya :

Batang (bogor) : di jadikan berbagai perkakas rumah.

Daunya : dijadikan rokok.

Buahnya :di jadikan makanan.

Lidinya : di jadikan sapu.

Bunganya : di sadap di jadikan gula.

Dan masih banyak lagi.

Kesimpulanya, masyarakat kawunggirang ingin menjadi masyarakat yang berguna bagi dirinya maupun orang lain.

Tidak di ketahui kapan waktunya nama Kaum Girang di rubah menjadi Kawunggirang.


B. Seni dan Tradisi Di Desa Kawunggirang.

Desa kawunggirang sejak dahulu adalah desa yang islami.karena dari dahulu sudah terdapat pesantren yang mampu menarik santri santri dari daerah yang jauh sekalipun.

Adat istiadatnyapun tidak menyimpang dari ajaran-ajaran islam pada umumnya.tidak ada yang istimewa dalam berbagai kegiatan bermasyarakat.dari pernikahan,khitanan dan kelahiran semuanya masih dalam ajaran-ajaran islam.

Kesenian di desa kawunggirang pun masih berbau islami. Misalkan seni Qasidah dan Rebana yang kini di kembangkan di dua pesantren di desa kawunggirang. Biasanya satu grup pemain rebana terdiri dari delapan orang penabuh rebana dan dua atau tiga orang menjadi penyanyi atau yang berqasidah, ditambah satu orang pemain organ atau piano dan pamain bass sebagai pengiring.

Rebana juga sering di kenal dengan sebutan genjring. Di sebut genjring karena apabila di tabuh, lempeng-lempeng besi berbentuk bulat yang ada di sekeliling badan kayu pada rebana akan saling beradu dan menimbulkan suara gemerincik.

Rebana atau genjring masih sering dipakai dalam acara-acara keagamaan tertentu, misalkan pada waktu menyambut tahun baru islam, rebana dipakai untuk mengiringi sholawat pada waktu pawai obor mengelilingi desa.

Selain kesenian rebana, ada suatu kegiatan yang ada setiap tahun rutin dilakukan. Yaitu ziarah ke makam Embah Bahim yang di lakukan setiap setelah Idul Fitri tepatnya setiap tanggal 15 syawal Peziarahnya pun tidak dari masyarakat kawunggirang saja, ratusan orang datang dari berbagai daerah ke desa kawunggirang untuk berziarah.

Ziarah ini adalah ziarah keliling untuk menziarahi makam para pejuang islam. Kebetulan pejuang yang di tuakan adalah makam Tubagus Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Bahim. Oleh karena itu tujuan pertama para peziarah adalah dengan menziarahi makam Mbah Bahim yang berlokasi di desa kawunggirang.

Penulis: tauvhk

im simple.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s